| Buku Asyik- Traveler’s Tale : Belok Kanan Barcelona! Buku yang asyik! Ringan, enak dibaca dan menyenangkan. Itu awal kesan gue saat membalik halaman-halaman awal buku setebal 200-an halaman ini. Gaya tulisan di awalnya sudah menyentuh kekinian yang informatif dan komunikatif. Bahasanya mudah dicerna, mengalir selaras dengan alur cerita yang gembira, konyol dan ’ngeblend’ dengan dasar cerita. Empat penulis, sejatinya merangkum pelangi karakter tulisan. Tentu saja ini memperkaya cerita. Belum lagi latar belakang masing-masing penulis yang mengedepan dan terjejak di beberapa bagian cerita. Kredo sebagai anak muda tergambar gamblang apa adanya, cepat ke tujuan, ( lagi-lagi ) tutur cerita yang ringan dan ceplas ceplos, sangat terbuka, tidak membuat penasaran. Buku ini sekilas bisa diartikan sebagai sebuah catatan perjalanan, sebulan catatan perjalanan, dengan tempelan kisah kasih yang meronta setelah sekian mendekam lama dalam lubuk. Perjalanan hati empat manusia, dua pasang, yang cukup mengharukan, tetapi mengesankan. Perjalanan hati ini dimulai dari tempat masing-masing dengan flashback masa lalu yang mematri keras dalam sanubari masing-masing karakter. Pergulatan batin yang kentara mengedepan pada beberapa scene, dan ini sedikit membekukan pergerakan perjalanan walau tidak sampai bertele-tele. Ini benang merah cerita yang sangat halus, tetapi hampir putus di beberapa tempat karena beban ’travelling’ tadi. Saling menindih, menurut gue. Gue kembali mencoba sadar bahwa buku ini bukan sesungguhnya bercerita an sich mengenai perjalanan dari menuju ke dengan segala tetek bengeknya. Kita tidak akan menemukan cerita yang komprehensif mengenai perjalanannya, walau di sana sini ada semacam tips atau catatan mengenainya. Gambaran perjalanan, tempat wisata, transportasi menempel saja, tidak melekat banyak dalam imajinasi kita sehingga kita bisa mencatatnya baik-baik dalam benak. Perkecualian ada, pada kisah Jusuf, yang konyol, pede banget akan kegantengennya ( gue yakin ini personifikasi Adhitya Mulya..hehe ) tetapi paling lepas. Pengalaman tidak biasanya lebih banyak dari yang lain, tetapi sayang juga eksplorasinya kurang mendalam. Contoh, cerita evakuasi Jusuf ke rumah Gunther yang berbaur dengan pengungsi lain. Ini bisa jadi pengayaan cerita. Juga saat Andre dari Brazil, travelmate dadakan Farah, karakter lain-Arab Jawa bermata biru, yang bisa dieksplor pengalamannya setelah 2 bulan disuruh backpacking oleh orangtuanya yang yakin backpacking setahun lebih ’ngelmu’ dari kuliah sekian tahun. Nah, yang sangat niat melakukan trip, karakter Retno, malah terasa kurang penjelajahannya. Perjalanan wisatanya dari Kopenhagen hingga Barcelona membuat gue menuntut cerita lebih banyak tentangnya. Perjalanan Retno seperti sebuah subfile kecil. Milan, terlebih Venesia dieksplorasi dikiiiitt sekali, apalagi Retno tidak naik gondola- memilih jalan kaki- keluar masuk museum. Aduuh! Sayang sekali, cerita Venesia seharusnya mendominasi perjalanan Retno. Dalam beberapa tips tercantum pula pesan yang berkaitan dengan makan dan makanan. Salah sebuahnya adalah tentang obat bagi pencernaan. Lainnya, penyediaan dana bagi kebutuhan travel yaitu, makan! Tetapi dalam buku ini, faktor penting bagi seorang traveler, yaitu makan dan makanan tidak mendapat tempat yang layak di sisi mereka. Halah! Yang paling dominan, yaa,..bakpaonya Francis doang! Gue berandai kesempurnaan dan kelengkapan cerita ini dengan adanya apresiasi tebal pada makanan yang dinikmati Francis di Little Havana, sopas de frijoles negros, atau Apfelstrudel yang dinikmati Farah di Winanya langsung selain penggambaran kopi yang komprehensif di Kafe Wien, juga poffertjess Amsterdam yang dimakan di Harlem oleh Retno. Dan, Jusuf, orang yang sibuk dengan privatisasi gantengnya ini kurang doyan makan tampaknya. Lalu, dramatisasi cerita. Sungguh, gue menangkap bahwa kisah romansa dalam buku ini bukan semata-mata sampiran. Tetapi begitu masuk bab kesekian ( sengaja gak ditulis, ntar gak seru dong, bacanya..), kejadian dramatis berlangsung cepat, tanpa gue tahu arsitektur ekskalasinya. Jadi, in my humble opinion, kurang orgasmic. Rasanya di sini titik puncak cerita, tetapi gue tidak mendapatkannya di situ, malah di Gate 12, saat Farah mau boarding. Ah..ini mah, kesengajaan dari Adhitya, niih! Kesimpulan dari kesimpulannya, buku ini seharusnya bisa lebih tebal lagi dengan detil perjalanan, appreciative culinary experiences, outlook akomodasi yang mendalam. Sehingga membuat pembaca holdback, menikmati dramatisasi kasih dengan imajinasi yang melanglang jagad yang maha luas ini. Tapi, overall, buku ini seru, ah!
|